NUSANTARA WRITERS AND READERS FESTIVAL, Tunggu Dan Ikuti Kegiatan Bersama Yudhie Haryono dan leadership team.

NUSANTARA WRITERS AND READERS FESTIVAL, Tunggu Dan Ikuti Kegiatan Bersama Yudhie Haryono dan leadership team.

PKRI News, JABAR. Bogor, Kegiatan ini bernama Nusantara Writers and Readers Festival (NWRF). Ini adalah sebuah festival literasi tahunan yang diadakan di kota hujan romansa Bogor, Indonesia. Festival ini digagas oleh lembaga Nusantara Centre dan Pusaka Indonesia, yang fokus bekerja dalam ranah budaya, pendidikan dan sastra. Kurikulum atlantik studies (ontologi); nusantara studies (epistemologi); indonesian studies (aksiologi) dan universitas nusantara dengan beberapa produknya.

Kertas kerja ini bertujuan untuk mempromosikan gagasan nusantara dan pembentukan pusat seni, pendidikan, sastra dan budaya nusantara; mengumpulkan penulis-penulis muda; yang juga kegiatan pameran karya mereka di panggung internasional; serta menyediakan beasiswa riset budaya, pendidikan, sastra dan budaya.

Kegiatan utama dari NWRF adalah diskusi dan pemutaran film, pentas seni budaya, temu penulis dan peluncuran buku serta pelatihan dan lokakarya riset kebudayaan.

Menghadirkan NWRF adalah mencoba memahami Nusantara sebagai jejak purba peradaban yang hampir punah. Ketika menjadi Indonesia, rerumputannya kering dan mati. Pohon-pohonnya layu. Moralitas dan akhlaknya ambruk. Sepeninggal para pendirinya, rumah-rumah ibadah ramai tapi sangat sepi dari nilai. Persisnya, senyap tak berpenghuni gagasan besar menyemesta. Pohon mangga berbuah, tapi generasi kita tak sudi menyantapnya. Mereka lebih bahagia bersama komoditas asing-asengnya. Ceria jadi milenial tapi tak bernalar revolusi, apalagi inovasi.

Kolam ikan, kering. Kolam renang, berdebu. Perpusnya, mati. Mereka berkata lirih, “buat apa membaca buku kembali? Tokh pejabat kita goblok-goblok sekali.” Gitar dan piano terbujur kaku. Lalu mereka berujar, “buat apa bernyanyi kembali jika sedih juga akhirnya.”

Padahal semilyar bulan lalu dunia tak ada. Ketika terbentuk, kitalah rupanya. Kita yang pernah mimpi revolusi. Kita paham betapa beratnya meruntuhkan firaun lokal dan kurikulum neoliberalisme. Dua yang bersekutu menelan pribumi.

Kita tentu sangat mencintai ilmu. Lama sudah kita menunggu benih pengetahuan bersemi; tekhnologi beranak pinak. Tetapi kini hampir mati habis nafas semua penghuni. Tak ada lagi seutas harapan tulus cinta kehidupan. Sesuci bidadari.

Tak pernah lupa kita impikan. Bercanda sastra. Kita sadar betapa beratnya meruntuhkan penjajahan. Setelah hampir mati ditelan romusa. Lama sudah kita menunggu terbukanya hati. Tersandranya nalar. Seutas harapan tulus cinta kemerdekaan.

Takkan kita temui. Problema seperti Indonesia. Takkan kita dapatkan, rasa cinta pada negeri. Takkan kita pedulikan, rasa penasaran pada penjajahan. Kita bayangkan bila kalian datang kembali. Kita peluk bahagiakan sejarah. Kita serahkan seluruh hidup kembali menghentakkan. Menjadi penjaga hati nusantara. Penjaga cita dan cinta yang suci.

Kawan. Sering kali kita temukan. Mahkota bertabur intan permata. Meski kita telah terbiasa. Tambatkan hati. Pada takdirNya. Kini kita hanya mayat sepi penikmat kesunyian tak bertepi. Teman kedunguan. Tak berseri.

Kawan pejuang. Pada indonesia kita berjanji. Padanya kita berbakti. Dalam kesenyapan tak bertepi. Kesedihan tak terperi. Yang para malaikatpun tak kan sanggup memanggulnya. Yang jeniuslah yang akan menemukan solusinya. Mereka yang bersetia kerja raksasa: merealisasikan pancasila.

Ayok kita berkolaborasi demi ditemukannya peradaban baru yang ultima: yang raya dan jaya. Kita harus yakin, di mana ada cinta pada Indonesia, di situ selalu ada harapan dan kejuangan. Semoga.(*)

Totop Troitua ST

Pendiri MB PKRI CADSENA dan Owner PT MEDIA PKRI CYBER